Mantan Presiden AS, Obama Serang Donald Trump – Barack Obama, mantan Presiden Amerika Serikat (AS) baru-baru ini meluncurkan serangannya kepada Presiden AS saat ini, Donald Trump mengenai berbagai hal gila yang muncul dari Gedung Putih. “Ini tidak normal, ini adalah masa yang tidak lazim dan berbahaya,” kata Obama saat berbicara di depan para mahasiswa di University of Illinois.

Baca juga: Murid Perguruan Silat Tewas Saat Latihan

Dia menyerukan dilakukannya “pemulihan kejujuran dan kepatutan dan tertib hukum dalam pemerintahan kita”.

Mantan presiden itu sebelumnya tetap menjaga agar tak tampil menonjol sejak meninggalkan Gedung Putih pada tahun 2017, kendati Presiden Donald Trump sering mengecam kebijakannya dulu. Obama mengatakan pada sebuah upacara penyerahan penghargaan di Urbana, Illinois, Jumat (7/9), bahwa dia sebetulnya berniat mengikuti tradisi mantan presiden Amerika untuk turun dari panggung politik.

Namun akhirnya malah melancarkan serangan tajam pada pemerintahan saat ini. Presiden Donald Trump tak urung menanggapinya juga. Di sela-sela penggalangan dana Partai Republik di Fargo, North Dakota, Jumat itu, ia mengatakan bahwa ia menyaksikan pidato pendahulunya itu, “tapi saya jatuh tertidur”.

Ia menuduh pula bahwa Obama mencoba untuk mengaku-ngaku ‘pencapaian luar biasa yang terjadi di negara kita,’ tambahnya.

Dalam pidatonya, Obama memperingatkan bahwa demokrasi Amerika bergantung pada kesediaan orang untuk datang ke tempat pemungutan suara saat pemilihan sela bulan November.

“Sekarang, beberapa dari Anda mungkin berpikir saya melebih-lebihkan ketika saya mengatakan pemilihan sela ini lebih penting dari semua pemilihan umum yang saya ingat dalam hidup saya,” kata sang Demokrat.

“Tapi dengan sekilas melihat berita utama baru-baru ini, sudah akan membuat Anda sadar bahwa momen kali ini benar-benar berbeda.”

Obama merujuk ke sebuah artikel opini di New York Times yang baru saja terbit yang membuat marah Trump.

Penulisnya, yang disembunyikan jati dirinya, disebut sebagai pejabat tinggi pemerintahan Trump, mengaku bekerja sama dengan sejumlah pejabat lain untuk melindungi negara dari “kebijakan-kebijakan terburuk” Presiden Trump.

Obama mengatakan: “Mereka (para pejabat anti Trump di gedung Putih) tidak melakukan hal terbaik untuk rakyat dengan secara aktif mempromosikan 90% dari hal-hal gila yang keluar dari Gedung Putih ini lalu berkata, ‘Jangan khawatir. Kami mencegah 10% lainnya.'”

Namun dia juga mengatakan kepada hadirin bahwa Trump adalah “gejala, bukan penyebab” dari kekisruhan di Amerika.

Dia mengecam seruan Trump kepada Departemen Kehakiman AS untuk menyelidiki para musuh politiknya.

“Bukanlah hal yang partisan untuk mengatakan bahwa kita tidak bisa menekan jaksa agung atau FBI untuk menggunakan sistem peradilan pidana sebagai alat untuk menghukum lawan politik kita.”

Presiden ke-44 AS ini juga pedas mengecam sikap awal Trump ketika tahun lalu diminta untuk mengutuk para pengunjuk rasa sayap kanan di Charlottesville, Virginia.

“Kita seharusnya menentang pihak pembuat masalah, dan bukan mengikuti irama mereka,” kata Obama. “Kita seharusnya menentang diskriminasi dan kita yakin bahwa kita harus bersikap dengan jelas dan tegas kepada simpatisan Nazi.”

Presiden Donald Trump Mengancam Beri Sanksi Perdagangan Ke China

Presiden Donald Trump mengatakan bahwa dia akan memberi sanksi perdagangan terhadap China. Bahkan ketika delegasi AS akan melakukan perjalanan ke Beijing untuk melakukan pembicaraan guna menyelesaikan perselisihan tersebut.

Insiden yang terjadi pada bulan Maret sebagian besar terfokus pada pencurian kekayaan intelektual Amerika sedang dikaji dan rincian akan diumumkan pada bulan mendatangm hal tersebut dari Gedung Putih yang mengatakan sanksi itu direncanakan dan diumumkan.

Meskipun mengumumkan gencatan senjata dalam permusuhan perdagangan kurang dari 10 hari yang lalu, setelah Menteri Keuangan Steven Mnuchin mengatakan, tarif terhadap barang-barang China ditahan untuk sementara waktu. Namun Gedung Putih mengisyaratkan bahwa pihaknya siap untuk menarik pelatuk kapan saja.

“Mulai sekarang, kami mengharapkan hubungan perdagangan yang adil dan ada timbal balik,” kata Trump dalam sebuah pernyataan, dikutip dari AFP, Rabu (30/5). Sedangkan Kementerian Perdagangan China mengatakan langkah itu melanggar konsensus baru yang dicapai antara Washington dan Beijing.

“Apa pun tindakan yang diambil Amerika Serikat, China memiliki kepercayaan diri, kemampuan dan pengalaman untuk membela kepentingan rakyat China dan kepentingan inti negara,” kata kementerian itu dalam sebuah pernyataan yang diterbitkan oleh Xinhua.

Sanksi perdagangan AS yang diumumkan pada Maret, termasuk pembatasan investasi China, kontrol ekspor dan tarif 25 persen pada sebanyak USD 50 miliar barang teknologi China masih dalam pengembangan.

Daftar akhir impor China yang dicakup oleh daftar tarif akan diumumkan pada 15 Juni, dan diberlakukan tidak lama sesudahnya, sementara pembatasan investasi yang diusulkan dan peningkatan kontrol ekspor akan diumumkan pada 30 Juni, menurut pernyataan Gedung Putih.

Presiden Donald Trump telah mengancam akan mengenakan tarif tambahan USD 100 miliar dalam barang-barang China, jika dari Beijing membalas.

Gedung Putih mengatakan, “Amerika Serikat akan melanjutkan upaya untuk melindungi teknologi domestik dan kekayaan intelektual, menghentikan transfer non-ekonomis teknologi industri yang signifikan dan kekayaan intelektual ke China, dan meningkatkan akses ke pasar China.”

Selain itu, sebagai bagian dari pembicaraan yang sedang berlangsung “Amerika Serikat akan meminta China menghapus semua hambatan perdagangannya, termasuk hambatan perdagangan non-moneter, yang membuatnya sulit dan tidak adil untuk melakukan bisnis di sana“.