Beijing Melaporkan Positif Corona

Beijing Melaporkan Positif Corona Setelah Beberapa Pekan Tanpa Adanya Kasus

Beijing , China melaporkan penyebaran lokal virus positif corona pertama di Beijing dalam beberapa minggu paling akhir. Ibu Kota negara itu sudah dibuka dengan cara setahap bersamaan dengan pengurangan jumlah masalah baru Covid-19. Seperti dikutip dari Associated Press, faksi berkuasa ditempat menjelaskan pasien ialah seorang pria berumur 52 tahun yang sedang ke klinik sebab demam, tetapi tidak mempunyai tanda-tanda yang lain.

Ia selanjutnya didiagnosa terkena Covid-19. Mulai sejak itu faksi berkuasa menutup bagian keluarga serta menata ulang beberapa langkah penjagaan di lingkungannya.

China memberikan laporan 7 masalah baru pada Jumat (12/6), sejumlah besar ialah masyarakat Tiongkok yang baru datang di luar negeri. Dalam laporan harian, Komisi Kesehatan Nasional menulis tidak ada kematian baru yang disampaikan.

Cuma ada 65 orang yang masih tetap jalani perawatan, 104 orang yang lain dalam isolasi serta diawasi sesudah hasil tes memperlihatkan positif virus, tetapi tidak memperlihatkan tanda-tanda.

Berdasar catatan statistik Worldometer, sampai sekarang ini China mempunyai 83.064 masalah corona serta 4.634 kematian. Sesaat 78.365 orang dipastikan pulih.

Virus Corona mulai menyebar semenjak di akhir tahun 2019 di kota Wuhan , China. Disangka virus itu datang dari hewan lalu menyebar pada manusia. Virus itu selanjutnya menebar ke pelosok negeri serta lintas negara.

Adanya Infeksi Terbaru Corona , Kota Beijing Menunda Untuk Membuka Sekolah

Beijing, ibu kota China mengatakan akan tunda pembukaan sekolah fundamen sesudah ada tiga masalah baru virus corona. Masalah itu adalah yang pertama sesudah dua bulan tidak ada infeksi Covid-19 di kota itu.

Komisi pendidikan kota itu pada Jumat (12/6) menjelaskan jika mereka sudah menggagalkan gagasan siswa kelas satu, dua serta tiga kembali pada sekolah pada Senin besok.

Beijing dengan cara setahap semenjak April lalu meluluskan siswa kembali lagi belajar di sekolah, sesudah ditutup semasa tiga bulan karena epidemi virus corona.

Step awal, pembukaan cuma dibolehkan untuk sekolah menengah pertama serta menengah atas.

Seperti diambil dari AFP, Komisi pendidikan menjelaskan siswa yang sudah kembali pada sekolah akan meneruskan pelajaran seperti umumnya, tapi dengan prosedur penjagaan yang semakin ketat.

China sukses mengatur infeksi corona dalam negeri, tetapi mereka dihantui penyebaran di luar. Sejumlah besar masalah yang dilakukan konfirmasi dalam beberapa waktu paling akhir ialah masyarakat yang baru datang di luar negeri.

Namun China sekarang cemas sebab masalah baru adalah masyarakat yang tidak mempunyai kisah perjalanan di luar negeri. Pasien ialah pria berumur 52 tahun yang sedang ke klinik sebab demam, tetapi tidak mempunyai tanda-tanda yang lain.

Faksi berkuasa ditempat menjelaskan dua pasien lain ialah karyawan Pusat Riset Daging. Satu dari mereka lakukan perjalanan ke Qingdao di China timur dalam dua minggu paling akhir.

Beijing akhir kali memberikan laporan masalah virus corona pada tengah April. Sampai sekarang ini kota itu mempunyai 597 masalah positif Covid-19, 174 salah satunya adalah imported kasus serta sembilan kematian.

Tambahan masalah baru itu ikut menyebabkan kecemasan di golongan netizen China. Beberapa pemakai sosial media mengatakan dilaksanakan pengujian Covid-19 massal di Beijing, sama seperti yang dilaksanakan di Wuhan.

China Membuka Suara Soal Dugaan Corona Yang Tersebar Di Wuhan

China membuka suara berkaitan hasil studi periset Amerika Serikat yang menyebutkan virus corona sudah menebar di Wuhan semenjak Agustus 2019, bertambah cepat dari prediksi awalnya.

China menyebutkan hal tersebut untuk usaha membelokkan bukti. AS berkali-kali mendakwa China banyak tutupi info berkaitan epidemi Covid-19, termasuk juga bagaimana asal-usul virus itu menebar.

“Beberapa politikus serta media AS melakukan tindakan seakan-akan mereka mendapatkan harta karun yang terpendam serta menebar dengan cara tidak menyengaja (penelitian), memperlakukannya seperti bukti baru jika Cina sembunyikan pandemi itu,” kata Hua seperti diambil dari AFP.

Studi dari Harvard Medical School memprediksi virus corona SARS-CoV-2 pemicu Covid-19 sudah menebar di Wuhan semenjak Agustus 2019.

Periset mendapatkan jumlah mobil yang semakin lebih tinggi dalam tempat parkir lima rumah sakit Wuhan di akhir musim panas serta musim luruh 2019 dibanding dengan tahun awalnya. Cara riset yang mereka kerjakan sama yang dilaksanakan oleh beberapa intelijen.

“(Kami) memperhatikan kenaikan menegangkan pada jalan raya di lima rumah sakit di Wuhan mulai akhir musim panas serta akhir musim luruh 2019,” kata John Brownstein, profesor Harvard Medical yang pimpin riset ini.

Karena, kenaikan jumlah mobil yang diparkir di dalam rumah sakit tidak bermakna dikarenakan oleh Covid-19. Disamping itu, belumlah ada bukti lain yang memperlihatkan virus itu tersebar di China di akhir musim panas 2019.

Menurut urutan sah epidemi versus China, masalah pertama Covid-19 diketemukan oleh dokter di Wuhan pada Desember 2019 serta mereka share posisi genom dengan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada awal Januari.

Beberapa negara, termasuk juga AS serta Australia menekan dilaksanakan penyelidikan pertama kali epidemi virus corona. Presiden Donald Trump berkali-kali menyebutkan jika virus corona datang dari laboratorium di Wuhan. Ia serta mengakui kantongi bukti itu.

China Bakal Buka Kamp Pelatihan Militer Di Afghanistan – Berlokasi di sebuah koridor sempit yang menghubungkan antara kedua negara. Pihak pemerintahan China telah memulai dalam pembanguanan Kamp pelatihan militer bagi para tentara yang berasal dari negara Afghanistan.

Baca juga: Marcus Sempat Gugup Ditinggal Kevin Saat Sedang Bertanding

Itu merupakan proyek yang sepenuhnya di biayai oleh Beijing demi membantu tetangganya itu dalam meningkatkan kemampuan untuk memberantas habis terorisme.

Setelah kamp pelatihan tersebut selesai di bangun, Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) akan mengirim ratusan atau setidaknya satu batalion tentaranya ke Koridor Wakhan.

Koridor ini adalah sebuah wilayah sempit bermedan berat dan sulit diakses sepanjang 350 kilometer yang menghubungkan provinsi Badakhshan di wilayah utara Afghanistan ke wilayah Xinjiang, China.

Ini merupakan kali pertama dalam sejarah, China akan memiliki pasukan di Afghanistan yang dikenal sebagai “Kuburan Kekaisaran” karena sulit diperintah dan ditaklukkan.

Namun, negeri Asia Tengah yang masih diamuk perang ini menjadi penting bagi keamanan dalam negeri China selain masuk dalam rencana infrastruktur Jalan Sutra baru yang dicetuskan Presiden Xi Jinping.

Tahun lalu, China membuka basis militer luar negerinya yang pertama di Djibouti, Tanduk Afrika. Fasilitas ini disebut Beijing sebagai pos logistik militer untuk memasok kebutuhan kapal-kapal China yang bertugas dalam misi kemanusiaan di Samudera Hindia.

Sejumlah sumber kepada harian South China Morning Post mengatakan, PLA telah mengirim satu batalion tentara ke Djibouti.

ebagian besar tentara ini adalah para insinyur dan teknisi yang bekerja di dermaga serbaguna itu dengan sedikit pasukan tempur yang melakukan latihan perang.

Para sumber ini mengatakan, basis militer di Afghanistan akan memiliki peran berbeda dengan pangkalan di Djibouti, karena lokasinya yang dekat di Xinjiang.

Di mata Beijing, Xinjiang adalah sumber dari “tiga kekuatan” di balik serangkaian kekerasan di kawasan itu yaitu separatisme, terorisme, dan ekstremisme.

Salah seorang sumber mengatakan belum ada jadwal pasti pembukaan pangkalan PLA di Afghanistan itu. Namun, yang jelas rencana ini dianggap sebagai sebuah proyek mahal tetapi amat penting dan bermanfaat.