Usai Sumbang Perak, Lalu M. Zohri Langsung Pulang ke Lombok – Meskipun gagal menyumbang medali emas untuk Indonesia di Ajang Asian Games 2018, setidaknya Lalu M. Zohri berhasil meraih medali perak lari estafet jarak 4×100 meter. Setelah selesai dalan ajang tersebut, Lalu M. Zohri langsung berangkat pulang menuju kampunya yang berada di Lombok.

Baca juga: Begini Sekarang Nasib Peraih 3 Medai Emas Asian Games 1962

Tujuan lain Lalu M. Zohri pulang menuju kampung tak lain di karenakan ia ingin segera bertemu dengan keluarganya yang kini masih mengungsi.

Zohri bersama rekan-rekannya di tim estafet baru saja mencetak rekor nasional saat turun di nomor 4×100 meter Asian Games 2018.

Bersama Eko Rimbawan, Fadlin, dan Bayu Kertanegara, Zohri meraih medali perak usai membukukan waktu 38,77 detik di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SU GBK) Senayan, Kamis (29/8/2018) malam.

Indonesia cuma kalah dari Jepang yang mencatatkan waktu 38,16 detik. Sementara China berhak atas perunggu usai membukukan waktu 38,89 detik.

“Perasaan saya bangga dan bersyukur sekali karena bisa memberikan yang terbaik untuk Indonesia,” kata Zohri.

Usai meraih perak, kini Zohri tak sabar untuk pulang ke Lombok dan berbagi kebahagiaan dengan keluarga. Zohri sendiri memang tampil di Asian Games 2018 dengan menyimpan kekhawatiran terkait keluarga.

Keluarganya saat ini tengah mengungsi, menyusul gempa besar yang mengguncang Lombok pada awal dan medio Agustus ini. Gempa 7,0 SR terjadi pada 5 Agustus lalu, kemudian gempa kuat lain dengan daya 6,9 SR terjadi pada 19 Agustus.

“Besok (Jumat) saya langsung pulang,” katanya.

Gempa Lombok menelan lebih dari 500 korban jiwa. Zohri sejatinya sempat ingin pulang sebelum Asian Games, tapi batal karena harus fokus ke ajang ini.

Keluarga sendiri sempat berpesan ke Zohri sebelum final estafet 4 x 100 meter, untuk fokus saja ke perlombaan.

“Kakak sempat telepon nangis-nangis dan bilang masjid runtuh. Saya ikutan nangis dan sempat ingin pulang. Tapi, karena teringat Asian Games jadi tidak jadi,” kata Lalu, waktu itu.

Maria Londa Minta Maaf Karna Tak Bisa Sumbang Medali Emas – Atlet lompat jauh andalan Indonesia, Maria Londa harus puas dengan pencapaiannya di Asian Games 2018 pada cabang lompat jauh. Ia pun gagal mempertahankan gelar juaranya setelah gagal mendapatkan kembali medali emas.

Baca juga: Karena Cuaca Buruk, MotoGP Inggris Di Batalkan

Saat di babak final lompat jauh yang berlangsung di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), pada hari Senin (27/7/2018). Maria Londa hanya finis di peringkat kelima dari 11 peserta. Lompatannya tercatat berada di jarak 6,45 meter.

Medali emas direbut oleh wakil Vietnam Thi Thu Thao Bui, yang berhasil mencatatkan lompatan sejauh 6.55 meter. Medali perak diraih oleh India yang diwakili Neena Varakil (6.51 meter) dan medali perunggu yang didapatkan atlet China, Xiaoling Xu (6.50 meter).

Maria menyebut hasil ini jauh dari harapannya dan targetnya. Sebagai peraih medali emas Asian Games 2014 Incheon, Maria pun kecewa karena bahkan tak bisa menyumbangkan medali untuk Indonesia.

“Memang ini jauh dari harapan saya. Mungkin sampai di sini rezekinya, mungkin di lain kesempatan. Ini yang terbaik lah. Saya sudah berusaha semaksimal. Terima kasih atas doa dan dukungan masyarakat Indonesia. Saya minta maaf belum memberikan medali untuk Indonesia,” kata Maria Londa.

Atlet asal Bali ini menjelaskan dia sebenarnya dalam kondisi baik, termasuk cederanya juga telah pulih. Namun kenyataannya tak berjalan sesuai keinginan dan harapannya.

“Semua berjalan baik dari awal sampai pemanasan sebelum pertandingan. Yaa.. mungkin posisi kelima mungkin yang terbaik untuk saya malam ini,” sambungnya.

“Sebenarnya lawan juga tidak berat, karena prestastinya yang juara, 6.55 (meter), jauh di bawah prestasi terbaik saya. Mungkin belum rezeki saja,” dia menambahkan.

Kisah Lalu Muhammad Zohri Menjadi Kebanggaan Indonesia Sebagai Pelari Tercepat di Dunia

Pelari Indonesia, Muhammad Zohri menjadi Juara Dunia Lari 100 M untuk U-20. Zohri menang sebagai Juara Dunia di Kota Tampere, Finlandia.

Prestasi yang didapatkan Zohri mebukukan sejarah bagi bangsa Indonesia. Atlet yang berusia 18 tahun ini berangkat ke Eropa karena catatan waktunya memenuhi kualifikasi IAAF World U-20 Championships yang digelar di Ratina Stadium, Tampere.

Pemuda kelahiran 01 Juli 2000 ini berjuang untuk Bendera Merah Putih. Zohri tercatat menjadi pelari tercepat di dunia namun kisahnya sungguh lebih menarik perhatian.

Sorotan publik sampai hari ini tidak berhenti pada kisahnya. Pemuda NTB itu mempunyai perjuangan luar biasa yang hidup sederhana dan sekarang memberikan pembuktian serta mencetak sejarah untuk Dunia.

Zohri mampu mengantarkannya finis tercepat dengan waktu 10,18 detik, lebih cepat dari duo Amerika Serikat, Anthony Schwartz yang finis 10,22 detik dan Eric Harrison di dengan waktu 10,22 detik.

Kepulangan Zohri di Tanah Air juga disambut  oleh Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang pada hari Selasa 17/07/2018 sekitar pukul 23.00 WIB.

Wiwiek beserta tim dari KBRI Helsinki sendiri mengawal Zohri dan tiga rombongan lain dari PASI yakni atlet lari gawang Halomoan Edwin Binsar Simanjuntak serta dua pelatih Erwin Renaldo Maspaitella dan Kikin Ruhuddin.

Di Finlandia, Zohri, Halomoan, Erwin, dan Kikin juga mendapat sambutan hangat dari diaspora Indonesia di Kota Tampere. Sementara sesuai jadwal, rombongan akan tiba di Tanah Air Selasa (18/7) pukul 23:00 WIB.

Berganti Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi yang akan menyambut meriah Zohri sang juara dunia. Di Indonesia, kerja keras Zohri bakal diganjar kucuran bonus ratusan juta, renovasi rumah, janji jabatan hingga paket umrah.