Senyum Aman Abdurrahman Ketika Divonis Hukuman Mati

Senyum Aman Abdurrahman Ketika Divonis Hukuman Mati

Aman Abdurrahman alias Oman Rochman atau Abu Sulaiman yang merupakan Terdakwa otak Bom Thamrin, Jakarta, tiba di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari pria 48 tahun itu.

Sesampainya di lokasi, Aman langsung mendapatkan pengawalan ketat dari sejumlah anggota Brimob berpakaian lengkap dengan menenteng senjata laras panjang. Aman tampak santai dan sesekali melemparkan senyum dengan tangan diborgol. Dia langsung digiring ke ruang tahanan sementara sembari menunggu instruksi dari jaksa penuntut umum (JPU).

Rencananya, hari ini JPU akan membacakan surat tuntutan terhadap Aman Abdurrahman. Dia didakwa telah menyebarkan paham radikal dalam kurun waktu delapan tahun.

Dia menyebarkan paham tersebut ke sejumlah wilayah Indonesia seperti di Jakarta, Surabaya, Lamongan, Balikpapan, Samarinda, Medan, Bima, dan Lembaga Pemasyarakatan Nusa Kambangan, Cilacap, Jawa Tengah.

Aman Abdurrahman menyebarkan dengan bermacam-macam cara. Dalam dakwaan disebutkan, melalui buku karangannya sendiri berjudul Seri Materi Tauhid atau MP3 yang dapat diunduh dari sebuah situs. Imbasnya, banyak orang yang terpengaruh untuk mengikuti ajaran yang disampaikan Aman Abdurrahman yang kemudian menjadi para pelaku teror.

Jaksa penuntut umum (JPU) menuntut terdakwa kasus terorisme Aman Abdurrahman alias Oman Rochman dengan hukuman mati. Pria berusia 48 tahun itu didakwa sebagai aktor intelektual di balik serangkaian teror di Indonesia, termasuk teror Bom Thamrin yang terjadi awal Januari 2016.

Mendengarkan tuntutan jaksa, Majelis Akhmad Jaini mempersilakan terdakwa mengajukan pleidoi atau nota pembelaan.

Berikutnya adalah hak saudara untuk mengajukan pembelaan terhadap tuntutan jaksa penuntut umum, baik secara tersendiri, maupun bersama-sama, atau penasihat hukum sendiri, saudara sendiri. Bagaimana, ujar hakim Akhmad di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jumat (18/5/2018). Pengacara Aman Abdurrahman, Asludin Hatjani lalu menjawab dengan mengajukan nota pembelaan. “Yang mulia, kami akan mengajukan pembelaan,” kata Asludin Hatjani.

Asludin meminta waktu untuk menyusun surat pleidoi. “Kami minta waktu satu minggu,” dia menambahkan. Selain pihak pengacara, Aman Abdurrahman juga mengajukan pleidoi secara pribadi. Majelis Akhmad Jaini pun menjadwalkan sidang pleidoi digelar pekan depan.