DetikNews

Tidak Terima Dengan Gosip, Aprianus Tega Membacok Tetangga Hingga Tewas

Seorang pria tega menghabisi tetangganya lantaran sakit hati dituduh sering main mata dan berbuat cabul. Pembunuhan sadis terjadi di Nias Selatan (Nisel), Sumatera Utara.

Pelaku bernama Aprianus Halawa alias Ama Rido (35) yang tega membacok teman pria sekaligus tetangganya sendiri Asonia Halawa alias Ama Niwa (43).Pembunuhan terjadi di Desa Sifaorasi Kecamatan Huruna, Rabu (8/8) malam

Aprianus menebaskan parangnya dalam dua kesempatan berbeda dan ini terjadi bukan sekali saja. Setelah luka bacokan pertama diobati, pelaku kembali membacok hingga korban tewas.

“Tersangka kita tangkap beberapa jam setelah kejadian. Dia diringkus tim gabungan saat bersembunyi di perkebunan karet di Desa Sifaorasi, Kamis (9/8) pagi,” kata Kapolsek Nias Selatan AKBP Faisal Napitupulu.

Kejadian ini berawal dari Aprianus yang diminta istri dari Asonia, yang bernama Betaria Zalukhu alias Ina Niwa, untuk datang ke rumah mereka.

Saat Aprianus datang, Asonia sengaja berada di dalam kamar untuk mendengarkan pembicaraan istrinya dengan Aprianus. Betaria bertanya alasan tetangganya itu kerap bermain mata dan menunjukkan kemaluan kepadanya.

Aprianus membantah dan tidak mengaku dituduh main mata dan cabul. Tak lama berselang, Asonia keluar kamar. Dia menyuruh tetangganya itu untuk mengaku, tapi tetap dibantah.

Aprianus kemudian pulang ke rumahnya yang hanya berjarak sekitar 3 meter dari rumah Asonia. Karena tak terima, dia pergi sambil memaki-maki tetangganya itu. Mendengar makian itu, Asonia mendatangi rumah Aprianus. Namun pintu rumahnya tertutup dan terkunci.

Saat Asonia berbalik pulang, Aprianus membuka jendela depan rumahnya dan membacok korban di bagian bahu sebelah kiri. Melihat kejadian itu, Betaria langsung menolong suaminya yang terluka. Sementara pelaku sempat mengancam akan membacok mereka.

Asonia sempat mendapat perawatan dari tenaga medis setempat. Setelah dirawat, dia kemudian keluar rumah dan duduk di jalan raya bersama anaknya.

Tiba-tiba Aprianus datang mendekat. Dia menebas leher kiri Asonia dengan parang. Korban seketika roboh bersimbah darah di jalan raya. Anaknya berteriak-teriak minta tolong, sedangkan pelaku langsung melarikan diri.

Istri dari Asonia, Betaria serta para warga sekitar mencoba menolong Asonia. Namun takdir berkata lain, korban tidak dapat diselamatkan.

Kejadian itu kemudian dilaporkan ke Polres Nias Selatan. “Kami langsung melakukan pengecekan ke lokasi kejadian. Anggota langsung kita turunkan untuk melakukan olah tempat kejadian perkara dan memintai keterangan sejumlah saksi mata,” ucap Faisal.

Setelah mengidentifikasi pelaku, tim gabungan yang dibentuk langsung memburu Aprianus. Rumahnya digeledah. Namun Aprianus sudah melarikan diri. Tak berhenti di sana. Petugas terus melakukan penyisiran di Desa Sifaorasi Kecamatan Huruna hingga pagi hari.

“Kerja keras tim membuahkan hasil. Dalam beberapa jam pelaku ditemukan sedang bersembunyi di areal perkebunan karet di Desa Sifaorasi Kecamatan Huruna. Saat diamankan, pelaku tidak melakukan perlawanan dan mengakui perbuatannya,” papar mantan Kasubdit III/ Jatanras Ditreskrimum Polda Sumut.

Setelah menangkap Aprianus, polisi juga menyita sejumlah barang bukti. Mereka di antaranya mengamankan parang yang digunakan pelaku untuk membacok korban

Kasus ini masih didalami polisi. Aprianus terus diperiksa intensif di Mapolres Nias Selatan. Saksi-saksi juga dimintai keterangan. “Jadi untuk sementara motif pembunuhan ini karena pelaku sakit hati dan tidak terima dituduh sering main mata dan menunjukkan kemaluannya kepada istri korban. Pelaku semakin tidak terima saat disuruh mengakui semua perbuatannya di rumah korban,” jelas Faisal.

Partai Gerindra dan Partai Demokrat Memanas, SBY di Minta Jauhi Kursi Cawapres

Ahmad Riza Patria  yang merupakan Ketua DPP Partai Gerindra angkat bicara terkait masalah cuitan politisi Demokrat Andi Arief yang menyebut Ketua Gerindra Prabowo Subianto sebagai jenderal kardus dan sikap Demokrat bercerai dengan koalisi Prabowo. Dia menyayangkan Andi Arief bersikap emosional.

 

“Biasa anak muda emosional gitu. Tapi kita harus tenang. Ya memperjuangkan saudara dan teman boleh saja, bagus. Pemuda itu harus mempunyai daya juang tinggi tapi harus disampaikan dengan santun,” ujar Ahmad Riza Patria saat dihubungi wartawan, Rabu (8/8).

 

Sikap Andi Arief yang marah karena Prabowo memilih Cawapres yang bukan dari Demokrat, justru dipertanyakan. Riza Patria mengingatkan, sejak awal Ketum Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sudah menyerahkan sepenuhnya keputusan sosok cawapres pada Prabowo Subianto.

“Pak SBY kan juga sudah menyatakan dukungannya. Pak SBY juga menyampaikan capresnya Pak Prabowo. Pak SBY juga menyampaikan tak meminta cawapresnya ada Demokrat yang mengusulkan AHY. Itu hal yang baik dan wajar. AHY pemuda yang potensial,” jelasnya.

Andi Arief juga menambahkan nama AHY masuk dalam salah satu kandidat cawapres yang akan mendampingi Prabowo. AHY mewakili Demokrat. Selain itu, ada nama Salim Segaf mewakili PKS. Belakangan muncul nama Wakil Gubernur DKI yang juga Wakil Ketua Dewan pembina Gerindra Sandiaga Uno.

“Jadi jkita hormati semua orang, semua partai, semua tokoh mempunyai hak yang sama. Namun demikian yang memutuskan partai koalisi, PAN, PKS, Demokrat.”

Kedatangan Sandiaga Uno dan Wisnu Wardhana di Kediaman Prabowo, Kertanegara

Masih membahas mengenai Cawapres. Dua hari jelang pendaftaran capres dan cawapres ditutup, kesibukan terlihat di rumah Prabowo Subianto Jalan Kertanegara, Kebayoran Baru, Jaksel. Rabu (8/8) malam misalnya, sejumlah elite Gerindra kumpul.

Kediaman Prabowo sudah ramai dikunjungi para elite politik sejak sore tadi. Mulai dari Ketua Dewan Pertimbangan PAN, Amien Rais dan Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan. Ada juga Wakil Ketua Dewan pembina Gerindra Sandiaga Uno dan Politikus Demokrat Wishnu Wardhana.

Dan yang menjadi salah satu topik utama pembahasan adalah Pembahasan cawapres. Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menjadi calon kuat. Di menit akhir, nama Wagub DKI Sandiaga Uno juga dipertimbangkan oleh koalisi.

Sandi tampak hadir sekitar Pukul 20.30 WIB. Setelah Sandi, tampak mantan Timses AHY di Pilgub DKI 2019, Wishnu Wardhana hadir sekitar Pukul 20.55 WIB. Baik Sandi maupun bos Indika Energy tersebut tak memberikan keterangan apapun kepada media yang berada di luar rumah Prabowo.

Wishnu bukan orang baru di Demokrat. Selain dekat dengan keluarga Cikeas, Wishnu selalu terlibat dalam tim inti partai pimpinan SBY itu. Pada 2014, Wishnu ikut menjaring capres dari Demokrat melalui konvensi, sebelum akhirnya penjaringan tersebut gagal melahirkan calon pemimpin.

Dalam beberapa sorotan kamera Media, Sandi tampak keluar masuk rumah Prabowo. Pukul 21.30 WIB, dia terlihat meninggalkan rumah Prabowo. Kemudian Pukul 23.00 WIB, Sandi kembali tampak datangi rumah Prabowo. Hanya 30 menit saja, Sandi kembali meninggalkan rumah Prabowo.

Baca juga : Kediaman SBY Banyak di Kunjungi Para Petinggi Demokrat

Di tengah diskusi yang dilakukan para elite koalisi, pada Pukul 21.29 WIB, tiba-tiba Wasekjen Demokrat Andi Arief mengeluarkan pernyataan keras melalui Twitternya. Andi menyebut, Prabowo jenderal kardus.

Saat itu, Andi Arief sedang berada di rumah SBY, Jl Mega Kuningan, Jakarta. Di situ, para elite Demokrat pun juga tengah kumpul bersama.

Andi mengungkap mahar Rp 500 miliar dari Sandiaga Uno kepada PKS dan PAN. Dia juga menyebut Prabowo sebagai jenderal kardus. Sehingga, koalisi antara Demokrat dan Gerindra, menurut dia, sudah berakhir.

“Tapi hari ini kami mendengar justru sebaliknya. Ada politik transaksional yang sangat mengejutkan. Itu membuat saya menyebutnya jadi jenderal kardus, jenderal yang enggak mau mikir!” kata Andi usai rapat di rumah SBY, tengah malam tadi.

Dan beberapa tudingan tersebut dibantah terang-terangan oleh Ketum PAN Zulkifli Hasan. Usai rapat di rumah Prabowo, Zulkifli menekankan, tidak ada uang sama sekali seperti tuduhan Andi.

Dia geram. Menurutnya, apa yang disebut Andi merupakan hoaks.

“Itu apa perlu dibahas sesuatu yang enggak ada. Ya enggak usah dibahas lah. Itu bisa dikatakan apa tuh sampah kan. Hoax. Mending ngomong capres aja lah,” katanya.

Masih Menjadi Misteri Mengenai Surat Prabowo Untuk SBY Tentang Cawapres

Koalisi di Pilpres 2019 Belum genap dua minggu dari kesepakatan, hubungan Gerindra dan Demokrat menjadi mendadak panas. Di tengah kemesraan keduanya, muncul isu mahar Rp 500 miliar dari Sandiaga Uno untuk PAN dan PKS.

Geram, Wasekjen Demokrat Andi Arief bahkan menyebut Prabowo sebagai jenderal kardus. Dia menilai, Prabowo lebih mementingkan uang ketimbang koalisi dengan rakyat. Menurut dia, Prabowo telah berkhianat.

Lalu dibalik tuduhan jenderal kardus dan mahar Rp 500 miliar. Rupanya, ada surat yang dikirimkan oleh Prabowo untuk SBY. Surat itu menyinggung berisikan tentang cawapres dan komitmen Demokrat yang pasrah dengan keputusan Prabowo.

Kemudian pernyataan dari Sekjen Gerindra, Ahmad Muzani menilai, partainya telah mengirim surat itu. Isi surat di antaranya soal mesranya Gerindra bersama PKS dan PAN, juga pertimbangan ulama soal cawapres.

“Pak Prabowo menjelaskan di dalam surat yang disampaikan, bahwa selama ini kami Gerindra sudah menjalin komunikasi yang baik dengan PKS dan PAN, kemudian selama ini kami juga menjalin komunikasi yang baik dengan ulama, kiai dan para Habib. Kemudian mereka menyodorkan ini, ijtima ulama,” kata Muzani.

Tapi, Muzani menekankan, tidak ada sama sekali dalam surat itu keputusan Prabowo tentang cawapres. Menurut dia, sampai Rabu (8/8) malam, Prabowo belum menentukan siapa cawapresnya di Pilpres 2019.

Prabowo dalam surat itu lebih merupakan diskusi tentang akan mengambil keputusan. Karena dalam pertemuan sehari sebelumnya, SBY mengatakan bahwa soal wakil presiden diserahkan sepenuhnya kepada Prabowo sebagai calon presiden, ucap Muzani.

“Keputusan siapa pun yang diambil sebagai calon wakil presiden, Demokrat akan turut. Nah Pak Prabowo belum mengambil keputusan,” jelas dia.

Oleh sebab itu, Prabowo berencana menemui SBY pagi ini sekitar Pukul 08.30 WIB di Mega Kuningan, Jaksel. Hal tersebut untuk meluruskan disinformasi yang terjadi menurut Gerindra.

Dan ternyata surat yang dikirim Prabowo tak sampai di tangan SBY. Melalui Sekjen Demokrat Hinca Panjaitan, menegaskan bahwa pihaknya sama sekali tidak menerima surat apapun dari Prabowo.

“Kami tidak menerima surat, sama sekali tidak ada surat Prabowo yang kami terima. Oke? Clear itu, ya. Jadi kita luruskan, tidak ada surat Prabowo satu pun yang kami terima,” kata Hinca di rumah SBY.

Menyeret Dua Putra SBY Lantaran Prabowo Disebut Jenderal Kardus

Prabowo Subianto yang merupakan ketua umum Gerindra, disebut Jendral Kardus oleh Andi Arief yang merupakan anggota Demokrat. Alhasil hubungan antara Partai Gerindra dengan Partai Demokrat tengah memanas.

Menurut beberapa sumber, Andi Arief yang mengunggah cuitan yang menyebut Prabowo jenderal kardus. Andi Arief mengaku kecewa dengan sikap politik mantan Danjen Kopassus tersebut..

Wakil Ketua Umum Gerindra Arief Pouyono geram dengan tudingan Andi Arief tersebut. Arief menyindir kasus kasus korupsi Demokrat yang menjerat beberapa kadernya. Terutama dalam kasus korupsi Wisma atlet di Hambalang yang menurutnya putra Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) Edhie Baskoro alias Ibas turut terlibat.

“Kan bukti si Anas (Urbaningrum), Nazarudin, Angelina (Sondakh), siapa lagi tuh yang sudah almarhum (Sultan Batugana), terus mantan menteri ESDM (Jero Wacik). Kan koruptor semua sampai harusnya anaknya ini harusnya diperiksa kasus Hambalang si Ibas gitu kan, karena diduga menerima kardus Hambalang. Saya kencengin nanti, saya minta KPK nangkep si Ibas,” tegas Pouyouno.

Arief juga berkata bahwa Partai Gerindra adalah partai yang realistis dan lebih mempertimbangkan kader potensial dibandingkan Ketua Kogasma Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) yang disebutnya boncel.

“Ya kita sih harus realistis, kalau yang diajukan anak boncel yang pasti kita enggak mau,” ujarnya.

Arief Pouyono juga tak khawatir soal sidang kehormatan partai yang dilewatinya karena menyebut AHY boncel. “Gak ada urusan, emang saya minta maaf (ke Demokrat), emang dateng ke sidang partai, gak ada,” tegasnya.

Dan ada 1 lagi yang bukan pertama kali, nama anak mantan Presiden SBY yaitu Ibas disebut dalam kasus dugaan korupsi. Dulu Antasari Azhar yang sempat mengatakan bahwa Ibas terlibat dugaan korupsi IT KPU 2009.

Putra kedua SBY ini pun juga tak tinggal diam. Meski tak langsung membantah tudingan Antasari, Ibas meminta masyarakat jangan larut terhadap hal-hal yang menyesatkan dan mengarah ke fitnah.

“Wahai rakyatku dan saudara-saudaraku. Janganlah kita larut dalam demokrasi yang menyesatkan (fitnah). Masih banyak cara yang lebih ksatria menuju satu tujuan,” tulis Ibas dalam akun Twitternya, @Edhie_Baskoro dikutip merdeka.com, Selasa (14/2).