Kedatangan Sandiaga Uno dan Wisnu Wardhana di Kediaman Prabowo, Kertanegara

Masih membahas mengenai Cawapres. Dua hari jelang pendaftaran capres dan cawapres ditutup, kesibukan terlihat di rumah Prabowo Subianto Jalan Kertanegara, Kebayoran Baru, Jaksel. Rabu (8/8) malam misalnya, sejumlah elite Gerindra kumpul.

Kediaman Prabowo sudah ramai dikunjungi para elite politik sejak sore tadi. Mulai dari Ketua Dewan Pertimbangan PAN, Amien Rais dan Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan. Ada juga Wakil Ketua Dewan pembina Gerindra Sandiaga Uno dan Politikus Demokrat Wishnu Wardhana.

Dan yang menjadi salah satu topik utama pembahasan adalah Pembahasan cawapres. Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menjadi calon kuat. Di menit akhir, nama Wagub DKI Sandiaga Uno juga dipertimbangkan oleh koalisi.

Sandi tampak hadir sekitar Pukul 20.30 WIB. Setelah Sandi, tampak mantan Timses AHY di Pilgub DKI 2019, Wishnu Wardhana hadir sekitar Pukul 20.55 WIB. Baik Sandi maupun bos Indika Energy tersebut tak memberikan keterangan apapun kepada media yang berada di luar rumah Prabowo.

Wishnu bukan orang baru di Demokrat. Selain dekat dengan keluarga Cikeas, Wishnu selalu terlibat dalam tim inti partai pimpinan SBY itu. Pada 2014, Wishnu ikut menjaring capres dari Demokrat melalui konvensi, sebelum akhirnya penjaringan tersebut gagal melahirkan calon pemimpin.

Dalam beberapa sorotan kamera Media, Sandi tampak keluar masuk rumah Prabowo. Pukul 21.30 WIB, dia terlihat meninggalkan rumah Prabowo. Kemudian Pukul 23.00 WIB, Sandi kembali tampak datangi rumah Prabowo. Hanya 30 menit saja, Sandi kembali meninggalkan rumah Prabowo.

Baca juga : Kediaman SBY Banyak di Kunjungi Para Petinggi Demokrat

Di tengah diskusi yang dilakukan para elite koalisi, pada Pukul 21.29 WIB, tiba-tiba Wasekjen Demokrat Andi Arief mengeluarkan pernyataan keras melalui Twitternya. Andi menyebut, Prabowo jenderal kardus.

Saat itu, Andi Arief sedang berada di rumah SBY, Jl Mega Kuningan, Jakarta. Di situ, para elite Demokrat pun juga tengah kumpul bersama.

Andi mengungkap mahar Rp 500 miliar dari Sandiaga Uno kepada PKS dan PAN. Dia juga menyebut Prabowo sebagai jenderal kardus. Sehingga, koalisi antara Demokrat dan Gerindra, menurut dia, sudah berakhir.

“Tapi hari ini kami mendengar justru sebaliknya. Ada politik transaksional yang sangat mengejutkan. Itu membuat saya menyebutnya jadi jenderal kardus, jenderal yang enggak mau mikir!” kata Andi usai rapat di rumah SBY, tengah malam tadi.

Dan beberapa tudingan tersebut dibantah terang-terangan oleh Ketum PAN Zulkifli Hasan. Usai rapat di rumah Prabowo, Zulkifli menekankan, tidak ada uang sama sekali seperti tuduhan Andi.

Dia geram. Menurutnya, apa yang disebut Andi merupakan hoaks.

“Itu apa perlu dibahas sesuatu yang enggak ada. Ya enggak usah dibahas lah. Itu bisa dikatakan apa tuh sampah kan. Hoax. Mending ngomong capres aja lah,” katanya.

Masih Menjadi Misteri Mengenai Surat Prabowo Untuk SBY Tentang Cawapres

Koalisi di Pilpres 2019 Belum genap dua minggu dari kesepakatan, hubungan Gerindra dan Demokrat menjadi mendadak panas. Di tengah kemesraan keduanya, muncul isu mahar Rp 500 miliar dari Sandiaga Uno untuk PAN dan PKS.

Geram, Wasekjen Demokrat Andi Arief bahkan menyebut Prabowo sebagai jenderal kardus. Dia menilai, Prabowo lebih mementingkan uang ketimbang koalisi dengan rakyat. Menurut dia, Prabowo telah berkhianat.

Lalu dibalik tuduhan jenderal kardus dan mahar Rp 500 miliar. Rupanya, ada surat yang dikirimkan oleh Prabowo untuk SBY. Surat itu menyinggung berisikan tentang cawapres dan komitmen Demokrat yang pasrah dengan keputusan Prabowo.

Kemudian pernyataan dari Sekjen Gerindra, Ahmad Muzani menilai, partainya telah mengirim surat itu. Isi surat di antaranya soal mesranya Gerindra bersama PKS dan PAN, juga pertimbangan ulama soal cawapres.

“Pak Prabowo menjelaskan di dalam surat yang disampaikan, bahwa selama ini kami Gerindra sudah menjalin komunikasi yang baik dengan PKS dan PAN, kemudian selama ini kami juga menjalin komunikasi yang baik dengan ulama, kiai dan para Habib. Kemudian mereka menyodorkan ini, ijtima ulama,” kata Muzani.

Tapi, Muzani menekankan, tidak ada sama sekali dalam surat itu keputusan Prabowo tentang cawapres. Menurut dia, sampai Rabu (8/8) malam, Prabowo belum menentukan siapa cawapresnya di Pilpres 2019.

Prabowo dalam surat itu lebih merupakan diskusi tentang akan mengambil keputusan. Karena dalam pertemuan sehari sebelumnya, SBY mengatakan bahwa soal wakil presiden diserahkan sepenuhnya kepada Prabowo sebagai calon presiden, ucap Muzani.

“Keputusan siapa pun yang diambil sebagai calon wakil presiden, Demokrat akan turut. Nah Pak Prabowo belum mengambil keputusan,” jelas dia.

Oleh sebab itu, Prabowo berencana menemui SBY pagi ini sekitar Pukul 08.30 WIB di Mega Kuningan, Jaksel. Hal tersebut untuk meluruskan disinformasi yang terjadi menurut Gerindra.

Dan ternyata surat yang dikirim Prabowo tak sampai di tangan SBY. Melalui Sekjen Demokrat Hinca Panjaitan, menegaskan bahwa pihaknya sama sekali tidak menerima surat apapun dari Prabowo.

“Kami tidak menerima surat, sama sekali tidak ada surat Prabowo yang kami terima. Oke? Clear itu, ya. Jadi kita luruskan, tidak ada surat Prabowo satu pun yang kami terima,” kata Hinca di rumah SBY.

Menyeret Dua Putra SBY Lantaran Prabowo Disebut Jenderal Kardus

Prabowo Subianto yang merupakan ketua umum Gerindra, disebut Jendral Kardus oleh Andi Arief yang merupakan anggota Demokrat. Alhasil hubungan antara Partai Gerindra dengan Partai Demokrat tengah memanas.

Menurut beberapa sumber, Andi Arief yang mengunggah cuitan yang menyebut Prabowo jenderal kardus. Andi Arief mengaku kecewa dengan sikap politik mantan Danjen Kopassus tersebut..

Wakil Ketua Umum Gerindra Arief Pouyono geram dengan tudingan Andi Arief tersebut. Arief menyindir kasus kasus korupsi Demokrat yang menjerat beberapa kadernya. Terutama dalam kasus korupsi Wisma atlet di Hambalang yang menurutnya putra Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) Edhie Baskoro alias Ibas turut terlibat.

“Kan bukti si Anas (Urbaningrum), Nazarudin, Angelina (Sondakh), siapa lagi tuh yang sudah almarhum (Sultan Batugana), terus mantan menteri ESDM (Jero Wacik). Kan koruptor semua sampai harusnya anaknya ini harusnya diperiksa kasus Hambalang si Ibas gitu kan, karena diduga menerima kardus Hambalang. Saya kencengin nanti, saya minta KPK nangkep si Ibas,” tegas Pouyouno.

Arief juga berkata bahwa Partai Gerindra adalah partai yang realistis dan lebih mempertimbangkan kader potensial dibandingkan Ketua Kogasma Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) yang disebutnya boncel.

“Ya kita sih harus realistis, kalau yang diajukan anak boncel yang pasti kita enggak mau,” ujarnya.

Arief Pouyono juga tak khawatir soal sidang kehormatan partai yang dilewatinya karena menyebut AHY boncel. “Gak ada urusan, emang saya minta maaf (ke Demokrat), emang dateng ke sidang partai, gak ada,” tegasnya.

Dan ada 1 lagi yang bukan pertama kali, nama anak mantan Presiden SBY yaitu Ibas disebut dalam kasus dugaan korupsi. Dulu Antasari Azhar yang sempat mengatakan bahwa Ibas terlibat dugaan korupsi IT KPU 2009.

Putra kedua SBY ini pun juga tak tinggal diam. Meski tak langsung membantah tudingan Antasari, Ibas meminta masyarakat jangan larut terhadap hal-hal yang menyesatkan dan mengarah ke fitnah.

“Wahai rakyatku dan saudara-saudaraku. Janganlah kita larut dalam demokrasi yang menyesatkan (fitnah). Masih banyak cara yang lebih ksatria menuju satu tujuan,” tulis Ibas dalam akun Twitternya, @Edhie_Baskoro dikutip merdeka.com, Selasa (14/2).

Kediaman SBY Banyak di Kunjungi Para Petinggi Demokrat

Membahas mengenai Partai, Ketua Dewan Kehormatan Partai Demokrat Amir Syamsuddin terlihat mendatangi rumah kediaman Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) siang ini. Dia mengungkapkan, kedatangannya saat ini dikarenakan rapat darurat.

Menurut Ketua Dewas tersebut ketika ditemui, Undangannya hanya menyebutkan rapat ya, rapat darurat gitulah kira-kira, ujar Amir, di kediaman SBY, Jakarta Selatan, Kamis (9/8/2018).

Menurut Amir, undangan yang diberikan sedemikian singkat. Dia pun mengaku belum mengetahui ihwal dibalik undangan pertemuan tersebut. Dia pun menampik jika pertemuan itu untuk membahas perihal cawaprem.

Belum tahu saya. Enggak (cawapres). Undangannya sedemikian singkat ya, hanya undangan saja. Tunggu saja, ucapnya.

Jelang beberapa saat setelah kedatangan Amir, Waketum Partai Demokrat Syarief Hasan juga terlihat datang ke kediaman Presiden Indonesia Ke-5 tersebut.

Waketum Demokrat, Syarief Hasan mengatakan, pertemuan itu terkait rapat konsolidasi. Dia mengatakan, rapat itu dihadiri oleh para pengurus DPP partainya secara lengkap dikediaman SBY tersebut.

Ditambahnya lagi, ada rapat konsolidasi. Pengurus DPP hadir dengan lengkap, mungkin ini diperluas, kata Syarief.

Syarief sendiri mengaku tidak tahu terkait kabar deklarasi Ketum Partai Gerindra Prabowo Subianto yang dikatakan akan dilakukan hari ini.

Tidak tahu, tanya Prabowo. Kita lihat nanti (soal koalisi), sebutnya.

Selain Amir dan Syarief, Politikus Partai Demokrat Hinca Panjaitan, Imelda Sari, Andi Malarangeng, Didi Irawadi, dan E. E. Mangindaan juga datang ke sana.

Komplotan Penipuan Ibu Rumah Tangga Yang di Hipnotis Ditangkap Polisi

Modus perampokan sekarang makin berkembang dan sekarang komplotan tersebut mengincar para Ibu Rumah Tangga yang hendak berpergian ke pasar, meski hanya kepasar, para komplotan ini dengan udah mendapati ratusan juta, dengan menhipnotis IRT tersebut.

Saat ini komplotan penipuan Ibu Rumah Tangga sudah dibekuk polisi. Tiga orang ini ditangkap karena menipu ibu rumah tangga dengan modus hipnotis. Mereka adalah Dodi Dana (64), Rudi Melalo (50) dan Teddy Setiawan (27).

“Sindikat ini sudah belasan kali melakukan penipuan, korbannya ibu-ibu dengan modus menghipnotis,” kata Wakil Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, AKBP Ade Ary Syam, di Mapolda Metro Jaya, Jumat (3/8).

Kejadian ini terjadi saat seorang ibu bernama Hannah melintas di Jalan Cidodol, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Saat itu, tersangka bernama Dodi menghampiri korban, mengaku sebagai pengusaha minyak asal Singapura.

“Kemudian (tersangka) menunjukkan uang mata uang Singapura. Dia bilang, saya sering membagi uang kepada janda dan kaum duafa,” kata Ade menirukan pengakuan pelaku.

Dan selanjutnya datanglah tersangka Rudi yang berperan meyakinkan korban, juga Teddy yang berpura-pura sebagai karyawan salah satu Bank BRI. Setelah korban teperdaya, tersangka mengajak ke Bank BRI cabang Cipulir untuk mengeruk uang dan perhiasan korban.

“Kemudian dua tersangka terus meyakinkan korban dengan metode hipnotis sehingga korban mau diajak masuk ke mobil. Kepada korban uang besar sekali nanti bisa ditukar, nanti saya tukarkan,” katanya.

Setibanya di lokasi, para tersangka kemudian membujuk korban agar mau mencairkan uangnya di bank dan ditukarkan secara personal dengan uang asing sebesar 500 Rubel sebanyak 14 lembar. Karena dijanjikan meraih untung, akhirnya korban mau mencairkan uang sebesar Rp 40 juta untuk ditukar dengan uang Rubel yang sudah kedaluwarsa.

“Usai di sana para tersangka ini menyerahkan 14 lembar yang mereka katakan uang Singapura yang kalau ditukar Rp 140 juta, akhirnya ibu mengambil uang Rp 40 juta dan diserahkan ke tersangka dan tersangka kasih ke korban 14 lembar, (uang rubel)” kata Adi.

“Korban ini percaya, dan kembali diajak tukaran berupa perhiasan yang dipakai korban. Korban pun mau menukarkan perhiasan yang dipakai dengan 3 lembar uang Rubel milik para pelaku,” sambungnya.

Ketika transaksi penukaran itu berhasil, ketiga komplotan ini akhirnya membawa Hanah ke tempat awal mereka bertemu di kawasan Cidodol. Pelaku memberikan uang palsu senilai Rp 300 ribu kepada korban untuk ongkos pulang ke rumahnya. Hingga akhirnya, tiga orang itu ditangkap.

“Ketiga tersangka dijerat Pasal 378 KUHP tentang Tindak Pidana Penipuan dengan ancaman hukuman 4 tahun penjara,” jelasnya.

Polisi juga menyita sejumlah barang bukti seperti sejumlah uang Rubel palsu, uang Rupiah palsu, perhiasan, kartu nama karyawan BRI palsu, surat sumbangan, kartu nama WN Singapura atas nama Salim Anan Brother, dan satu unit mobil Daihatsu Xenia berwarna perak.