Turis Asing di Yogyakarta Bakal Banyak Belanja Saat Dolar AS Naik

Turis Asing di Yogyakarta Bakal Banyak Belanja Saat Dolar AS Naik – Semakin naiknya nilai tukar mata uang Amerika Serikat (AS) dolar terhadap mata uang Indonesia, rupiah. Hal tersebut di yakinkan bakal menarik para wisatawan asing menuju ke Indonesia. Khususnya di daerah Yogyakarta.

Baca juga: Ternyata Ini Penyebab Rupiah Tembus Rp 14.897 Perdolar

Alasannya para wisman bakal lebih banyak mengantongi rupiah setelah ditukar dolar AS, dan mereka bisa lebih banyak belanja di Indonesia.

“Kalau dia membawa dolar, otomatis yang awalnya bisa beli lima (barang) menjadi bisa beli tujuh, atau lima plus dua dalam wujud yang lain menjadi bisa,” kata Kepala Dinas Pariwisata DIY, Aris Riyanta, Kamis (6/9/2018).

“Jadi memang secara psikologis, dalam praktis itu juga memang demikian. Iya (mempengaruhi daya tarik berkunjung), daya belinya kan berbeda,” lanjut Aris.

Menurutnya, wisman yang akan berkunjung ke Indonesia dengan membawa dolar otomatis daya belinya meningkat. Faktor tersebut, lanjutnya, terkadang menjadi salah satu pertimbangan wisman untuk mengunjungi Indonesia.

“Bagi orang-orang yang mempunyai banyak dolar, orang asing yang ke Indonesia atau ke Yogyakarta itu mereka bisa varian (barang) yang dibeli menjadi lebih banyak. Kalau membawa uang berupa dolar,” tuturnya.

“Jadi harapannya bisa menambah spending money-nya. Karena spending money-nya bisa bertambah kemudian multiplier maupun effect yang lainnya itu menjadi merembes ke bawah. Trickle down effect-nya menjadi lebih bagus,” lanjutnya.

Sementara terkait jumlah kunjungan wisman ke Yogyakarta, kata Aris, jumlahnya selalu naik setiap tahunnya. Hal tersebut, menurutnya menjadi kabar baik bagi para pelaku pariwisata.

“Jadi wisatawan mancanegara itu dari 2016 ke 2017 naik 12 persen. Jumlahnya 397.951 (wisman) di tahun 2017, di tahun 2016 itu sekitar 355.313 (wisman). Tahun ini targetnya kita naikkan 450 ribuan,” terangnya.

“Komposisinya untuk tahun 2017 ini masih dari Belanda sekitar 13 persen, terus Malaysia 13 persen, kemudian Singapura 10 persen, terus Jepang 6 persen, terus Prancis. China itu hanya di urutan kesepuluh, 3 persen,” tutupnya.