Postingan Viral Teman Dita Oeprianto (Teroris) Yang Terpapar Radikalisme

Postingan Viral Teman Dita Oeprianto (Teroris) Yang Terpapar Radikalisme

Detiks NewsAhmad Faiz Zainuddin mendadak jadi viral di media social karena tulisan yang dipostingnya beberapa hari terakhir. Dalam tulisan itu ia berkisah tentang teman sekolahnya, Dita Oepriarto yang kemudian menjadi terkenal setelah melakukan aksi meledakkan bom bunuh diri di Gereja Pantekosta di Surabaya. Dita juga mengajak istri dan empat anaknya dalam aksi tersebut.

Ahmad Faiz Zainuddin menceritakan bagaimana paham radikal merasuki anak-anak muda. Ia mengatakan, kelompok radikal menyasar sekolah dan kampus melalui kegiatan rohis atau SKI. Rohis atau SKI banyak disusupi kelompok radikal. Mereka mencari calon-calon potensial untuk didoktrin sesuai dengan pemahaman mereka. Kelompok ini biasanya menyasar sekolah dan kampus-kampus unggulan.

“Di SMA-SMA unggulan di Surabaya, rohis-rohisnya baik tapi kemudian disusupi orang-orang yang merekrut calon-calon potensial yang mengajak radikal. Belum teroris tapi radikal,” jelas alumnus SMA 5 Surabaya ini dalam diskusi di Wahid Institute, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (15/5).

Kelompok radikal menyusup ke dalam rohis dengan ikut pengajian sembari memperhatikan siapa yang bisa diajak ikut pengajian kelompoknya. Gerakan mereka dilakukan secara pelan-pelan. Saat ada anggota rohis yang berhasil diajak ikut diskusi atau pengajian dengan kelompok mereka, mereka tak langsung menyampaikan paham radikal, tapi bergerak secara pelan.

“Enggak diajak langsung radikal tapi pelan-pelan. Ibarat rebus katak enggak langsung dicemplungi ke air mendidih. Jadi kita enggak sadar dibawa ke paham radikal,” jelasnya.

Dia mengaku pernah ikut pengajian kelompok radikal saat sekolah dulu. Tapi ia tak berhasil didoktrin dan memilih keluar sembari terus memantau perkembangan teman-temannya termasuk Dita Oepriarto.

Faiz membantah asumsi bahwa orang yang mudah terpapar paham radikal ini adalah orang-orang psikopat, stres, maupun dari keluarga miskin. Sepanjang pengamatannya, mereka yang terpapar paham radikal ini berasal dari keluarga kaya, pintar dan cerdas, lemah lembut dan berprestasi.

Dampak dari radikalisasi ini tak dapat dilihat dalam jangka waktu yang singkat tapi belasan atau puluhan tahun kemudian. Sebagaimana yang dilakukan Dita Oepriarto. Karena itulah ia berpendapat dalam mengatasi persoalan ini harus dicermati bagaimana permulaannya.

Mereka yang telah terpapar gerakan radikal ialah mereka yang sedang mencari. Karena itulah menurutnya masyarakat tak perlu terlalu menghakimi mereka yang dicap radikal ini. Menangani akar persoalan ini tak hanya dengan menghakimi, mengutuk dan menghujat.

“Bagi saya mereka sedang mencari. Jadi berempati lah pada mereka. Kawan-kawan terlalu men-judge dan tak bisa berempati. Enggak bisa hanya memojokkan saja, menghujat atau mengutuk,” kata dia.

“Ibaratnya mau menghabisi pecandu narkoba, jangan mulai setelah mereka jadi pecandu. Tapi bagaimana awalnya mereka jadi pecandu,” imbuhnya.

Penanganan di permulaan ini diperlukan. Karena jika paham ini telah menancap dan diyakini, maka sangat sulit mengubah ideologi mereka. “Kalau ingin menghilangkan terorisme harus tahu apa yang menjadi permulaan mereka. Kalau sudah terlanjur, susah karena sudah kecanduan mau diapain lagi susah,” jelasnya.

Faiz juga mengingatkan masyarakat jangan mencurigai pengajian rohis atau LDK di kampus selalu berkaitan dengan radikalisme. Di satu sisi ia juga meminta para kelompok rohis atau LDK jangan menyangkal ada kelompok penyusup yang ingin menyebarkan paham radikalisme ke dalam organisasi mereka.

“Ada kelompok-kelompok yang dengan intensif, terstruktur dan masif di sekolah-sekolah, kampus-kampus terbaik yang merekrut mereka. Awalnya pengajian biasa tapi pelan-pelan direbus katak ini sampai matang,” jelas dia.

Author: admin