Begini Sekarang Nasib Peraih 3 Medai Emas Asian Games 1962

Begini Sekarang Nasib Peraih 3 Medai Emas Asian Games 1962 – Dalam ajang perlombaan terbesar pertandingan berbagai macam cabang olahraga terbesar yang ada di Asia atau lebih di kenal sebagai Asian Games. Saat ini digelar di Indonesia sebagai tuan rumah Asian Games 2018 dan berlangsung di kota Jakarta dan Palembang.

Baca juga: Pesawat China Mendarat Darurat Tanpa Dua Roda

Dalam ajang itu tenyata menjadi pengingat kepada para atlet legenda tanah air yang sebelumnya pernah membanggakan dan mengharumkan nama bangsa di ajang pesta olahraga terbesar di Asia itu.

Bagaimana nasib mereka yang saat itu merebut segudang prestasi dengan penuh pengabdian, tanpa ‘embel-embel’ bonus dari pemerintah. Bahkan kabarnya hingga saat ini perhatian dari pemerintah, baik pusat maupun daerah masih belum optimal. Para legendaris atlet berprestasi baik tingkat Asia maupun dunia tersebut tersebar di seantero negeri ini. Salah satunya di Sukabumi.

Salah satunya di Sukabumi, Jawa Barat terdapat legendaris pembalap sepeda berjulukan Macan Asia yakni Hendrik Brocks yang kini lebih dikenal dengan nama Hendra Gunawan. Hendrik Brocks yang di kalangan keluarga lebih akrab disapa Pak Eki ini telah banyak menyumbangkan medali.

Di antaranya yang sangat top yaitu pada Asian Games IV tahun 1962 di Jakarta. Dia telah menyumbangkan tiga medali emas dari nomor team time trail 100 km, individu open road race 190 km, dan team open road race 190 km.

Bahkan atas keberhasilannya merebut tiga medali emas, pria kelahiran Sukabumi, 27 Maret 1941 itu menjadi atlet Indonesia terbanyak peraih medali emas pada Asian Games 1962. Bukti segudang prestasi yang telah diraihnya dalam balap sepeda jalanan baik tingkat nasional, Asia, hingga dunia itu dapat dilihat di ruang tamunya.

Sejumlah foto saat menunggang sepeda balap terpajang di dinding di antara banyak piagam. Begitu juga berbagai medali dan tropi terpajang dalam sebuah lemari kaca.

Namun bagaimana saat ini, nasib legendaris pembalap sepeda berjulukan Macan Asia tersebut. Saat ini Hendrik bersama istrinya Yati Suryati (67) mendiami sebuah rumah sederhana peninggalan keluarganya.

Rumah yang sempat ambruk dan baru direhab ini berlokasi di permukiman padat penduduk di Jalan Bhayangkara, Gang Rawasalak, Kelurahan Sriwedari, Kecamatan Gunungpuyuh, Kota Sukabumi. Kondisi fisik Hendrik pada umumnya tetap terlihat masih segar bugar dan sehat, meskipun bila berjalan harus ditopang sebuah tongkat.

Hanya saja, sejak 2007, tim medis memvonis pria keturunan Jerman-Jawa ini dengan diagnosa glaukoma. Akibat glaukoma ini, penglihatannya terganggu hingga akhirya tidak bisa melihat. “Kalau kesehatan alhamdulillah. Hanya saja penglihatan yang terganggu karena glaukoma, dan sudah dua kali menjalani operasi,” ungkap Hendrik

Hendrik mengaku sudah lama menempati tempat tinggalnya sekarang. Bahkan beberapa tahun lalu, rumah sederhana ini sempat nyaris ambruk. Namun belum lama ini, rumah tersebut direhab. Dana rehab berasal dari penjualan rumah pemberian pemerintah pada 2007 di salah satu perumahan di Sukabumi.

“Ini rumahnya sebenarnya sudah roboh dan baru direhab. Alhamdulillah tahun 2007 Pak Adhyaksa Dault memberikan sebuah rumah di perumahan. Namun selama 10 tahun tidak boleh dijual, akhirnya belum lama ini dijual dan uangnya dipakai untuk rehab rumah ini,” tutur dia.

Sayangnya saat ini, Hendrik yang sudah menorehkan dan mengharumkan nama Sukabumi dan Indonesia di Asia dan dunia tidak memiliki kartu atau peserta Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. Untuk biaya pengobatan penyakit glaukoma pada 2007 masih mengandalkan biaya dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sukabumi.

“Nggak pegang kartu (BPJS), justru gak masuk. Kalau biaya operasi saat itu sih biayanya masih ada dari Pemkab Sukabumi. Karena saat itu melatih tim sepeda balap Kabupaten Sukabumi,” akunya.

Saat ditanya mengenai perhatian khusus dari pemerintah pusat terhadap para mantan atlet berprestasi, seperti dirinya, Hendrik menjawab tegas tidak ada. Bahkan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Periode 2004-2009 Adhyaksa Dault yang pernah menjanjikan dana pensiun pun tidak terealisasi.

“Pak Adhyaksa waktu beliau menjadi Menpora menjanjikan mengusahakan pemerintah akan memberikan pensiun bagi peraih medali emas olimpiade dan Asian Games. Namun sampai sekarang nggak ada realisasinya,” tutur Hendrik.

“Padahal kalau melihat jumlah atlet yang mendapat medali emas dari Olimpiade dan Asian Games tidak banyak,” sambungnya.

Namun, meski tidak mendapatkan jaminan kesehatan dari pemerintah untuk perawatan kesehatannya dan tidak mendapatkan dana pensiun untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya, Hendrik mengakui masih tetap sehat dan bisa menjalani kehidupan meskipun sederhana.

“Saya gak tahu, tapi sehari-hari saya masih bisa makan,” kata Hendrik dengan nada penuh semangat dan optimis.