Bangunan Berkonstruksi Sarang Laba-laba Aman Dari Gempa

Bangunan Berkonstruksi Sarang Laba-laba Aman Dari Gempa – Gempa yang terjadi di Lombok, Nusa Tenggara Barat tentunya menjadi bencana yang merugikan banyak para warga. Mengapa tidak, banyak sekali bangunan-bangunan rumah yang roboh akibat terjadinya gempa. Namun, ada beberapa rumah yang masih tetap aman karena menggunakan fondasi dan konstruksi sarang laba-laba pada rumah yang di tempati.

Baca juga: Selama Asian Games 2018, Para Pedagang Stiker Untung Sampai Jutaan Rupiah

Hal itu di sampaikan oleh ahli struktur, Ir Moch. Arif Toto R, M-Eng, A-UT, yang diberi tugas melaksanakan penaksiran (assessment) terhadap bangunan yang menggunakan konstruksi sarang laba-laba di Lombok.

“Bahkan, kami harus melakukan reassessment (beberapa kali penaksiran), mengingat gempa di NTB terjadi beberapa kali. Namun, sejauh ini bangunan dengan konstruksi sarang laba-laba tidak mengalami kerusakan struktur,” kata Toto, yang juga menjabat sebagai ketua II Komisariat Daerah Himpunan Ahli Konstruksi Indonesia DI Yogyakarta, seperti dikutip dari keterangannya, Minggu 2 September 2018.

Menurut Toto, berbeda dengan gempa di Yogyakarta beberapa waktu lalu, gempa di Lombok ini terdapat empat sumber gempa yang berbeda. Ada yang gerakannya horizontal, tetapi ada juga yang vertikal.

“Jadi, guncangannya selain horizontal juga vertikal, yang merusak itu vertikal ditambah akselerasi. Terutama, pada elemen-elemen arsitektural seperti penggunaan atap bangunan bermaterial berat seperti genteng yang saat terjadi gempa jatuh menimpa plafon,” ujar dia.

“Seperti di rumah sakit umum provinsi di Mataram, yang menggunakan konstruksi sarang laba-laba. Bangunan tidak mengalami kerusakan yang berarti, meski berkali-kali diguncang gempa,” kata Toto, yang melakukan assessment bersama Dinas Cipta Karya Provinsi Nusa Tenggara Barat.

“Sifat dan karakter konstruksi sarang laba-laba yang kaku dan stabil, serta responsif membuat bangunan di atasnya tidak mengalami kerusakan struktur, meskipun diguncang gempa beberapa kali,” tambah Toto.

Ungkap Toto, karakter konstruksi seperti ini akan mengikat bangunan di atasnya saat terjadi gempa, sehingga ini yang membuatnya tidak mengalami kerusakan. Toto mengatakan, penggunaan konstruksi tahan gempa seperti konstruksi sarang laba-laba, seharusnya diwajibkan untuk bangunan fasilitas publik, seperti rumah sakit untuk daerah-daerah, contohnya di Nusa Tenggara Barat.

“Kerusakan yang saya lihat, sifatnya non struktural seperti genteng jatuh dan dinding retak,” ujar dia.

Gedung lain yang tidak mengalami kerusakan adalah Balai Kesehatan Mata Provinsi di Lombok, dan gedung Balai Kepegawaian Daerah, karena bangunan tua peninggalan Belanda, yang menggunakan satu batu yang sangat tebal sebagai dinding. Toto merekomendasikan, untuk bangunan di daerah rawan gempa, sebaiknya selain ditunjang fondasi anti gempa juga menggunakan atap ringan.

Toto mengatakan, proses assessment merupakan forensik bangunan untuk nantinya dikeluarkan rekomendasi laik fungsi atau tidak. Kalau tidak laik, berarti ada tindak lanjut apakah cukup diperkuat atau harus diganti, sedangkan yang laik fungsi segera diterbitkan sertifikat laik fungsi.

Bangunan lain yang juga tidak mengalami kerusakan, karena menggunakan konstruksi sarang laba-laba adalah gedung Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Kantor Perwakilan NTB di Mataram.

“Saya dilaporkan, ternyata tidak ada kerusakan struktur, hanya kaca-kacanya ada yang pecah,” kata mantan Ketua Unit Layanan Pengadaan (ULP) Biro Umum BPKP, Tri Winarno, selaku perwakilan pemilik bangunan saat itu.

Tri yang kini bertugas di Papua mengatakan, pemilihan konstruksi sarang laba-laba saat itu sangat tepat dari hasil rekomendasi Dinas PU Provinsi NTB Subdin Cipta Karya, serta dari konsultan perencana.

Berdasarkan survei ditambah data-data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG) setempat, maka diputuskan untuk menggunakan konstruksi tahan gempa, dalam hal ini konstruksi sarang laba-laba yang merupakan karya anak bangsa.

“Pembangunan saat itu membutuhkan waktu dua tahun, karena menyesuaikan dengan plafon anggaran Kementerian Keuangan. Kemudian, untuk percepatan pekerjaan saat itu dibagi dua segmen atas dan bawah, sehingga lebih efisien dari segi waktu dan biaya,” ujar Tri.

Lebih jauh, tenaga ahli pemasaran PT Katama selaku pemegang paten Perbaikan Konstruksi Sarang Laba-laba, Agus B. Sutopo menyampaikan rasa terima kasihnya kepada seluruh pemangku kepentingan yang telah mempercayakan penggunaan konstruksi sarang laba-laba untuk bangunan, khususnya di daerah rawan gempa.

“Bahkan, perkembangan saat ini, untuk pengembangan teknologi konstruksi sarang laba-laba yang telah teruji beberapa kali terhadap guncangan gempa menarik perhatian dari pihak asing dan telah dijadikan bahan disertasi di Universite de Technologie de Compiegne (UTC) Prancis,” ujar Agus.